Rabu, 17 Oktober 2012

Perawatan Luka


Perawatan Luka. Takut bekas luka membuat kulit kita keliatan tidak cantik dan membuat kita tidak nyaman untuk mengenakan pakaian kesukaan kita? Untuk itu apabila anda mempunyai luka basah maupun luka bakar jangan diabaikan dan dianggap sepele, harus bisa lo melakukan perawatan luka seefektif mungkin sehingga tidak menyebabkan infeksi yang serius dan meninggalkan bekas luka yang parah.
Dalam tulisan ini akan dibahas mengenai perawatan luka pada luka basah maupun luka bakar.
Perawatan luka yang dapat dilakukan pada luka basah bisa dilakukan dengan cara:
  1. Pertama-tama bersihkan luka dari semua kotoran yang ada atau kulit yang terkoyak yang ada di sekitar daerah luka. Bisa gunakan sabun lunak untuk membasuhnya dan bilas dengan air bersih.
  2. Luka yang masih basah sebaiknya jangan di tutup dan jangan dikasih salep atau krim karena akan membuat luka lambat kering, kalaupun ditutup cukup gunakan kain kassa tanpa menggunakan kapas didalamnya, jangan terlalu rapat agar luka tersebut masih mempunyai celah udara.
  3. Kompres luka dengan menggunakan Rivanol selama beberapa hari, ganti kompres setiap kali kompres terasa sudah kering.
  4. Setelah luka terasa kering betul baru oleskan salep atau krim antibiotika, hal ini dilakukan jika luka sudah benar-benar kering karena kalau luka masih basah dan dikasih salep akan membuatnya sukar sembuh.
  5. Usahakan luka basah tersebut terhindar dari air sehingga mempercepat keringnya luka.
  6. Jangan membuka keropeng luka yang sudah mengering secara paksa, biarkan keropeng luka tersebut lepas dengan sendirinya.
  7. Biasanya setelah keropeng luka tersebut lepas dengan sendirinya akan mengeluarkan darah ini tanda bahwa kulit tersebut masih muda, bubuhkan antibiotika untuk melindungi kulit agar tidak terinfeksi dan menjadi luka basah yang baru.
Dan bagaimana dengan perawatan luka pada luka bakar, luka bakar sendiri mempunyai tanda seperti kulit memerah yang bisa berakibat melepuh, sering juga ditandai dengan adanya pembengkakan, demam dan sakit kepala.
Perawatan luka pada luka bakar bisa dilakukan dengan:
  1. Alirkan air bersih pada kulit yang terkena luka selama kurang lebih 15 menit, hal ini dilakukan untuk mendinginkan luka bakar tersebut dan mencegah pembengkakan.
  2. Jangan menaruh langsung Es pada kulit yang terkena luka bakar karena akan mengakibatkan frosbite atau cidera kematian sel karena membeku.
  3. Jangan mengoleskan salep atau krim pada luka bakar tersebut sebelum tindakan diatas dilakukan. Dalam hal ini mengoleskan odol atau mentega juga bukan hal yang baik karena bisa menimbulkan infeksi.
  4. Setelah luka bakar terasa dingin oleskan lotion atau krim yang mengantung aloe vera atau vitamin E agar kulit tidak menjadi kering atau rusak.
  5. Bila perlu luka bakar bisa ditutup menggunakan kain kassa steril yang dikasih antibiotik.
  6. Bisa juga oleskan salep atau krem seperti Bioplacenton untuk mencegah infeksi.
  7. Untuk mengurangi gejala yang timbul seperti nyeri dan juga demam bisa dikasih minum obat paracetamol atau aspirin.
Perawatan luka diatas dapat kita lakukan untuk perawatan luka yang tergolong ringan dan bisa kita tangani sendiri, dan bila mengalami luka yang cukup parah bawalah berobat ke dokter karena mungkin perlu perawatan luka yang lebih serius.
Agar luka tidak membekas maka lakukanlah perawatan luka dengan baik dan benar sejak awal, apabila luka sempat terinfeksi akibat perawatan luka yang kurang baik maka mau tidak mau luka tersebut akan membekas dan membuat kita tidak nyaman karenanya. Luka yang membekas ini sukar di perbaiki bahkan memerlukan bedah plastik. Maka itu jaga kulit kita dari bekas luka dengan melakukan perawatan luka yang benar dan aman.

luka bakar


1.    Klasifikasi luka bakar
Keparahan luka bakar dikaji dengan menentukan kedalaman luka bakar, persentase area permukaan tubuh yang terkena, dan keterlibatan bagian tubuh khusus. Setelah luka bakar, perfusi kulit menurun karena pembuluh darah tersumbat dan terjadi vasokonstriksi ( Betz & Swoden, 2004 ).
Menurut corwin, 2007 kedalaman luka bakar digolongkan sebagai berikut :
a.         Luka bakar derajat pertama superficial terbatas pada epidermis yang ditandai dengan adanya nyeri dan eritema tanpa lepuh. Kulit sembuh spontan dalam 3 sampai 4 hari dan tidak meninggalkan jaringan parut, biasanya tidak menimbulkan komplikasi, misalnya luka bakar akibat sinar matahari.
b.        Luka bakar derajat kedua ketebalan parsial dalam meluas ke epidermis dan ke dalam lapisan dermis. Luka bakar ini sangat nyeri dan menimbulkan lepuh dalam beberapa menit. Luka bakar ini biasanya sembuh tanpa meninggalkan jaringan patut, walaupun orang-orang tertentu terutama orang amerika keturunan afrika, dapat mengalami jaringan parut akibat luka ini. Penyembuhan biasanya memerlukan waktu sebulan. Komplikasi jarang terjadi, walaupun mungkin menimbulkan infeksi sekunder pada luka.
c.         Luka bakar derajat kedua ketebalan parsial dalam meluas ke seluruh dermis. Folikel rambut mungkin utuh dan akan tumbuh kembali. Luka bakar jenis ini hanya sensitive parsial terhadap nyeri karena luasnya destruksi saraf-saraf sensorik. Namun, daerah di sekitarnya biasanya mengalami luka bakar derajat kedua superficial yang nyeri. Luka bakar ini penyembuhannya memerlukan wakktu beberapa meinggu dan pembersihan ( debridement ) secara bedah untuk pembuangan jaringan mati. Biasanya diperlukan tandur kulit. Pada luka bakar ini slalu terjadi pembentukan jaringan parut.
d.        Luka bakar derajat ketiga ketebalan penuh meluas ke epidermis, dermis, dan subkutan. Kapiler dan vena mungkin hangus dan aliran darah ke daerah tersebut berkurang. Saraf rusak sehingga tidak terasa nyeri. Namun, daerah sekitar biasanya memperlihatkan nyeri seperti pada luka bakar derajat kedua. Luka bakar jenis ini memerlukan waktu berbulan-bulan untuk sembuh dan diperlukan pembersihan secara bedah dan penanduran. Luka bakar derajat ketiga membentuk jaringan parut dan jaringan tampak seperti kulit keras.
e.         Luka bakar derajat keempat meluas ke otot, tulang, dan jaringan dalam.

Senin, 15 Oktober 2012

triage


1.   Definisi triage
Triage adalah pengelompokan korban / pasien berdasarkan berat ringannya trauma atau penyakit serta kecepatan penanganan atau pemindahan.
Definisi Triage adalah usaha pemilahan korban sebelum ditangani, berdasarkan tingkat kegawatdaruratan trauma atau penyakit dengan mempertimbangkan prioritas penangnanan dan sumber daya yang ada.
Kata ini berasal dari bahasa Perancis trier yang berarti memisahkan, memilah dan memilih. Penggagas awalnya adalah Dominique Jean Larrey, seorang dokter bedah Perancis pada Pasukan Napoleon.
Triage atau triase adalah proses untuk menentukan prioritas perawatan pasien berdasarkan tingkat keparahan kondisi mereka. Hal ini terutama diperlukan ketika sumber daya yang ada tidak mencukupi untuk semua pasien.
Triage adalah suatu proses yang mana pasien digolongkan menurut tipe dan tingkat kegawatan kondisinya.

2. Prinsip dan tipe triage
Prinsip Triase Pada keadaan bencana massal, korban timbul dalam jumlah yang tidak sedikit dengan resiko cedera dan tingkat survive yang beragam. Pertolongan harus disesuaikan dengan sumber daya yang ada, baik sumber daya manusia maupun sumber daya lainnya. Hal tersebut merupakan dasar dalam memilah korban untuk memberikan perioritas pertolongan.
Pada umumnya penilaian korban dalam triage dapat dilakukan dengan:
·         Menilai tanda vital dan kondisi umum korban
·         Menilai kebutuhan medis
·         Menilai kemungkinan bertahan hidup
·         Menilai bantuan yang memungkinkan
·         Memprioritaskan penanganan definitif
·         Tag Warna
Prinsip-prinsip triage :
“Time Saving is Life Saving (respon time diusahakan sependek mungkin), The Right Patient, to The Right Place at The Right Time serta melakukan yang terbaik untuk jumlah terbanyak” dengan seleksi korban berdasarkan :
·         Ancaman jiwa mematikan dalam hitungan menit
·         Dapat mati dalam hitungan jam
·         Trauma ringan
·         Sudah meninggal
Dari yang hidup dibuat prioritas Prioritas : penentuan mana yang harus didahulukan mengenai penanganan dan pemindahan yang mengacu pada tingkat ancaman jiwa yang timbul

Tingkat prioritas :
•Prioritas I (prioritas tertinggi) warna merah untuk berat dan biru untuk sangat berat.
Mengancam jiwa atau fungsi vital, perlu resusitasi dan tindakan bedah segera, mempunyai kesempatan hidup yang besar. Penanganan dan pemindahan bersifat segera yaitu gangguan pada jalan nafas, pernafasan dan sirkulasi. Contohnya sumbatan jalan nafas, tension pneumothorak, syok hemoragik, luka terpotong pada tangan dan kaki, combutio (luka bakar) tingkat II dan III > 25%.
•Prioritas II (medium) warna kuning. Potensial mengancam nyawa atau fungsi vital bila tidak segera ditangani dalam jangka waktu singkat. Penanganan dan pemindahan bersifat jangan terlambat. Contoh: patah tulang besar, combutio (luka bakar) tingkat II dan III < 25%, trauma thorak/abdomen, laserasi luas, trauma bola mata.
·           Prioritas III(rendah) warna hijau. Perlu penanganan seperti pelayanan biasa, tidak perlu segera. Penanganan dan pemindahan bersifat terakhir. Contoh luka superficial, luka-luka ringan
·           Prioritas 0 warna Hitam. Kemungkinan untuk hidup sangat kecil, luka sangat parah. Hanya perlu terapi suportif. Contoh henti jantung kritis, trauma kepala kritis.
Kategori : Setelah melakukan penilaian, korban dikategorikan sesuasi denagn kondisinya dan diberi tag warna, sebagai berikut:
·                       MERAH (Immediate) Setiap korban dengan kondisi yang mengancam jiwanya dan dapat mematikan dalam ukuran menit, harus ditangani dengan segera.
·                       KUNING (Delay) Setiap korban dengan kondisi cedera berat namun penganannya dapat ditunda.
·                       HIJAU (Walking Wounded) Korban dengan kondisi yang cukup ringan, korban dapat berjalan
·                       HITAM (Dead and Dying) Korban meninggal atau dalam kondisi yang sangat sulit untuk diberi pertolongan.

Sistem Triage Non Disaster : Untuk menyediakan perawatan sebaik mungkin bagi setiap individu pasien
Disaster : Untuk menyediakan perawatan yang lebih efektif untuk pasien dalam jumlah banyak.

Type Triage Di Rumah Sakit
1. Type 1 : Traffic Director or Non Nurse
·         Hampir sebagian besar berdasarkan system triage
·         Dilakukan oleh petugas yang tak berijasah
·         Pengkajian minimal terbatas pada keluhan utama dan seberapa sakitnya
·         Tidak ada dokumentasi
·         Tidak menggunakan protocol
2. Type 2 : Cek Triage Cepat
- Pengkajian cepat dengan melihat yang dilakukan perawat beregristrasi atau
dokter
·         Termasuk riwayat kesehatan yang berhubungan dengan keluhan utama
·         Evaluasi terbatas
·                       Tujuan untuk meyakinkan bahwa pasien yang lebih serius atau cedera mendapat perawatan pertama
3. Type 3 : Comprehensive Triage
·         Dilakukan oleh perawat dengan pendidikan yang sesuai dan berpengalaman
·         4 sampai 5 sistem katagori
·         Sesuai protocol

3. Klasifikasi dan penentuan prioritas pasien
Klasifikasi
Klasifikasi Triage Klasifikasi berdasarkan pada :
·         pengetahuan
·         data yang tersedia
·         situasi yang berlangsung

Sistem Klasifikasi Sistem klasifikasi menggunakan nomor, huruf atau tanda. Adapun klasifikasinya sebagai berikut :
-Prioritas 1 atau Emergensi
·                       Pasien dengan kondisi mengancam nyawa, memerlukan evaluasi dan intervensi segera
·         Pasien dibawa ke ruang resusitasi
·         Waktu tunggu 0 (Nol)

-Prioritas 2 atau Urgent
·         Pasien dengan penyakit yang akut
·         Mungkin membutuhkan trolley, kursi roda atau jalan kaki
·         Waktu tunggu 30 menit
·         Area Critical care
-Prioritas 3 atau Non Urgent
·         pasien yang biasanya dapat berjalan dengan masalah medis yang minimal
·         luka lama
·         kondisi yang timbul sudah lama
·         area ambulatory / ruang P3

-Prioritas 0 atau 4 Kasus kematian
·         tidak ada respon pada segala rangsangan
·         tidak ada respirasi spontan
·         tidak ada bukti aktivitas jantung
·         hilangnya respon pupil terhadap cahaya